WASPADA, AWASI PENUMPANG GELAP

(Natsir Said, pemerhati jalanan, eks wartawan tvOne)
Bagikan Artikel ini

Pariwaraku.com – Dalam politik, istilah penumpang gelap dapat dimaknai pada banyak bentuk karakter atas orang. Namun kali ini, pasca penetapan Rusdy Mastura (Cudi) sebagai Gubernur Sulteng, sudah pasti istilah penumpang gelap disematkan pada orang-orang yang sebelumnya mendukung kandidat lain pada Pilkada sebelumnya, lalu berbelok mendukung Rusdy setelah keluar sebagai pemilik suara mayoritas.

Lantas apa urgensinya istilah itu dibahas?
Dalam kacamata penulis, event politik adalah pertarungan ide dan gagasan. Ada konsepsi yang ditawarkan-tidak hanya jadi jualan-pada publik sebagai garansi pilihan politik, namun lebih dari itu gagasan yang lebih kita kenal sebagai visi & misi itu bertumbuh dari dinamika sosial dan diskursus melelahkan dalam team work masing-masing kandidat. Soal bagaimana dan kemana ruh ide-ide itu, tentu mereka-mereka yang berkutat dalam dinamika proses awalnya lebih dapat membathini strategi mewujudkan.

Bacaan Lainnya

Kembali ke soal penumpang gelap. Hadirnya orang-orang baru yang cenderung mewakili karakter oportunis dan hipokrit ini cenderung akan melahirkan gesekan penerapan konsep. Sebab itu tadi, ibarat diskusi dengan tema yang kian mengerucut, munculnya orang baru yang tanpa tahu soal dari awal lalu ikut berceloteh akan sangat rentan menciptakan bias atau bahkan degradasi.

Entah hendak disebut kelebihan atau kekurangan, namun sosok Cudi yang selalu saja membuka diri pada pihak manapun, selagi secara kasat mata menurut penilaiannya bertujuan baik tentu akan diberikan ruang, maka masuknya penumpang gelap akan lebih mudah terjadi. Dalam kacamata theologis, sikap alamiah Cudi yang selalu welcome pada sesiapa saja itu mewakili sebahagian sifat kenabian. Namun dalam penerapan politik liberal kekinian karakter itu bisa jadi bumerang. Yah itu tadi, penumpang gelap yang jika menempati posisi-posisi strategis justru akan menggerogoti.

Apapun bentuknya, penumpang gelap selalu lahir dari karakter keserakahan, tanpa ideologi sama sekali selain pada keuntungan yang sifatnya individualistik. Waspada.(*)

(Natsir Said, pemerhati jalanan, eks wartawan tvOne)


Bagikan Artikel ini

Pos terkait