Story of Kale: Asal-Usul Patah Hati dan Mitos ‘Cewek Misterius’

Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

 

Story of Kale merupakan spin-off dari Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.

________________________________________

PARIWARAKU.com – Bayangkan kamu sudah berpacaran selama satu setengah tahun. Dalam rentang itu, kamu merasa sudah mengenal kekasihmu, melewati banyak momen manis, dan berusaha memecahkan masalah yang muncul dalam hubungan tersebut berdua. Kamu cuma ingin dia bahagia dan rela melakukan apa pun untuk kekasihmu itu. Lalu tiba-tiba, “Le, aku mau kita putus!”

Kamu merasa disambar petir. Kenapa perempuan yang sangat kamu sayang ini tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan begitu saja. Apa kesalahanmu? Apa gunanya waktu satu setengah tahun yang sudah kalian lewati berdua? Apa persoalan ini begitu pelik sehingga satu-satunya jalan keluar adalah putus?

Oleh Angga Dwimas Sasongko, sutradara kelahiran 35 tahun lalu, seluruh persoalan ini diolah dalam Story of Kale: When Someone’s in Love.

Story of Kale adalah spin-off dari film yang juga disutradarai Angga, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, yang tayang pada 2019. Story of Kale mengisahkan perjalanan asmara Kale (Ardhito Pramono) sebelum ia bertemu dengan Awan (Rachel Amanda). Saya pikir, film ini adalah upaya mengupas alasan di balik jawaban Kale atas pertanyaan satu juta dolar dari Awan, “Sebenernya kita ini apa sih?” yang waktu itu cuma ia jawab dengan bodoh, “Emang, kamu maunya apa?”

Premis Story of Kale sebenarnya sederhana: masa lalu cowok bernama Kale dan alasan di balik keengganannya memulai hubungan serius dengan Awan. Alih-alih jadi pacar dan berjanji saling membahagiakan, Kale malah menceramahi Awan soal kebahagiaan sebagai tanggung jawab yang harus dipikul sendiri-sendiri. Padahal Awan tahu betul yang ia butuhkan untuk bahagia cuma Kale.

Rupanya, potongan dialog soal bahagia sebagai tanggung jawab masing-masing tersebut berasal dari Dinda (Aurélie Moeremans), mantan kekasih Kale sebelum ia bertemu Awan. Kale mengenal Dinda ketika menggarap kolaborasi dengan band yang dimanajeri sang gadis, Arah. Saat itu, Dinda masih menjalin hubungan dengan cowok yang suka main tangan bernama Argo. Argo tak segan-segan memaki-maki Dinda, melempar barang, dan menyakitinya ketika sedang murka–bahkan di tempat kerja Dinda.

Caci maki dan tindakan kasar tersebut tak lantas selesai setelah Argo kepergok oleh personil Arah. Perlakuan kasar baru berhenti setelah Kale adu jotos dengan Argo, hingga keduanya dipisahkan oleh petugas keamanan. Tak lama setelah itu, Kale berusaha meyakinkan Dinda bahwa hubungan yang dijalaninya tak sehat. Tak ada gunanya bertahan dalam sebuah hubungan ketika pasanganmu tega menyakitimu secara fisik. Begitu kira-kira pesan Kale.

Setelah putus dari Argo, Dinda dan Kale pun jadi dekat. Tur antar kota juga membuat keduanya menghabiskan lebih banyak waktu bersama, hingga mereka sepakat untuk memulai hubungan.

Angga berusaha merangkai fragmen-fragmen semesta Story of Kale dalam 77 menit, durasi yang bisa dibilang singkat jika dibandingkan dengan NKCTHI yang berlangsung 120 menit–mungkin karena tujuannya hanya menggali alasan mengapa Dinda minggat dari hubungannya dengan Kale.

Sayangnya, eksekusi Story of Kale terasa tak semaksimal NKCTHI. Ada banyak lubang yang ditinggalkan dalam upaya memahami alasan Dinda meninggalkan Kale.

loading...

Pertama-tama, hampir keseluruhan cerita diteropong lewat perspektif Kale. Story of Kale mendedah cara Kale melihat hubungan Dinda dengan mantan kekasihnya, bagaimana ia tak rela Dinda menaruh perhatian kepada lelaki lain, hingga upaya protektif Kale untuk melindungi sang pacar dari si mantan.

Secara esensial tak ada yang keliru dari menggunakan perspektif laki-laki. Ada banyak film dikisahkan lewat perspektif laki-laki yang justru berhasil menggambarkan secara realistis posisi laki-laki di dunia nyata dengan segala kerapuhan dan kepura-puraannya (Oh, hai, Kathryn Bigelow).

Masalahnya, resep itu saja tidak cukup untuk menggambarkan dunia hubungan romantis laki-laki dan perempuan di dunia yang makin kompleks, antagonistik, dan tidak waras ini. Untuk mendapat gambaran yang lebih paripurna, kita membutuhkan suara pasangan si laki-laki, yakni si perempuan. Dan persis di sinilah problem Story of Kale: karakter Dinda tak punya cukup ruang untuk bertutur dan bertindak. Penonton diajak melihat Dinda dari perspektif Kale semata seolah Kale adalah Kakak Segala Tahu. Padahal, Dinda punya peran penting dalam membentuk karakter Kale yang emotionally unavailable dalam NKCTHI.

(Lho, bukankah judul film ini adalah Story of Kale sehingga wajar jika fokusnya adalah Kale? Begini Bung dan Nona, kita sedang bicara gambar dan suara dan plot, bukan judul. Tapi, bukankah film 500 Days of Summer (2009) juga lebih banyak bercerita tentang Tom Hansen ketimbang Summer Finn? Lagi-lagi ini bukan soal judul; ini soal konsep cerita.)

 

Dinda memang memilih untuk meninggalkan Kale karena sudah tak nyaman dalam hubungan itu. Ia sudah merasa tidak nyaman itu selama 10 bulan, bahkan sudah mengkhianati Kale dengan lelaki lain. Tapi, alih-alih membuat penonton bisa mendeteksi asal muasal keengganan Dinda dalam melanjutkan hubungan, kita hanya tahu itu lewat obrolan, bukan gambar–artinya lewat pengakuan verbal alih-alih informasi kontekstual tentang bagaimana yang verbal-verbal itu bergulir (singkatnya, it tells, not show).

Sepanjang film, saya menduga-duga apakah Dinda masih kesulitan melupakan Argo sehingga mencari jawaban lewat hubungan gelap dengan lelaki lain. Namun, hal ini juga gagal menjelaskan mengapa Dinda enggan melanjutkan hubungan. Dinda hanya menyampaikan alasan klise: 1) Kale terlalu protektif dan 2) keinginan mereka berbeda.

Karakter Dinda yang tak digambarkan punya ruang untuk berkembang ini bermasalah. Ia sekadar mengulang mitos lawas bahwa perempuan adalah mahluk misterius, selalu gagal menjelaskan keinginannya sendiri, dan sulit dipahami seperti kalkulus. Hingga mengakhiri hubungan pun dilakukan lewat alasan-alasan tak masuk akal–minimal kabur.

Apakah film ini sedang berusaha keras menjadi l’education sentimentale bagi cowok-cowok yang kerap dipandang tidak peka dan mendominasi hubungan? Ataukah Story of Kale sengaja membuang elemen-elemen yang bisa mendukung Dinda untuk eksis sebagai karakter utuh agar filmnya cocok secara harafiah dengan judul Story of Kale?

Entahlah. Spekulasi adalah spekulasi dan itu tidak menjawab apa-apa. Yang bisa dipastikan, kita tak memiliki informasi tentang latar belakang Dinda yang bsia menjelaskan motif dari tindakan-tindakannya. Tak ada penjelasan mengapa Dinda tiba-tiba ingin menikah dan melanjutkan studi di Jerman (ada yang tahu kapan dia ambil Zertifikat Deutsch di film ini?)

Para hadirin yang berbahagia, ini tahun 2020. Tak ada lagi yang namanya cewek misterius. Imaji cewek misterius adalah warisan zaman terbelakang ketika perempuan masih dipingit, tidak boleh sekolah, dan dilarang punya peran publik. Anda tahu, apa efek dari ‘kemisteriusan’ Dinda? Ia menjadi sosok perempuan neurotik yang tak tahu terima kasih dan kabur begitu saja dengan alasan tidak jelas.

Kok bisa? Ya bisa. Sebab, segala ‘ketidakjelasan Dinda’ sangat kontras dengan motif Kale yang sangat terang. Bahkan, Kale digambarkan sangat ingin menjamin kebahagiaan Dinda, termasuk menentukan keputusan-keputusan karier sang kekasih hingga aktivitasnya sehari-hari.

Masalah lain yang krusial: Story of Kale melewatkan begitu saja narasi yang menjadi premis penting dalam film ini; kekerasan dalam pacaran. Dalam hubungan romantisnya, Dinda dua kali jadi korban kekerasan dalam pacaran. Namun, tak ada diskusi lebih jauh soal trauma pasca-kekerasan tersebut, baik setelah mengakhiri hubungan dengan Argo maupun dengan Kale.

loading...

Kejadian ini tak ditempatkan sebagai alasan utama Dinda memutuskan hubungannya dengan Kale di saat kekerasan baru terjadi, padahal ini bisa jadi alasan paling masuk akal untuk putus. Dinda tak mendapat ruang untuk menyuarakan kondisi dirinya setelah diperlakukan tak baik oleh dua mantannya. Ia sekadar digambarkan berkata “Aku tahu harus apa” ketika seorang personil Arah menanyakan kenapa ia ribut dengan Kale. Selanjutnya, Dinda ditampilkan cuma menunjukkan ekspresi numb yang tak bisa ditebak setelah bertengkar. Saya tak melihat Dinda berusaha merekonstruksi apa saja yang telah ia lalui bersama Argo dan Kale.

Sekitar 10 tahun setelah dirilis, 500 Days of Summer dikenang sebagai ‘film kebangsaan’ para bucin alias budak cinta. Setidaknya ada satu generasi yang tumbuh besar bersamanya. Generasi ini mengingat Tom Hansen sebagai sosok cowok galau nan tulus dan Summer Finn sebagai ikon heartbreaker yang tidak jelas apa keinginannya (dan tiba-tiba nikah dengan lelaki lain)–dengan kata lain: ‘cewek misterius’Meski demikian, persepsi ini belakangan diobrak-abrik. Sederhana saja:500 Days of Summer menempatkan Summer sebagai karakter yang tak ingin punya hubungan serius dengan Tom, cowok baperan dan tak jelas mau apa dalam hidupnya. Film menggambarkannya perbedaan watak kedua karakter secara harafiah, terang, dan lugas di awal. 
!
Sepuluh tahun dari sekarang, kira-kira citra apa yang bertahan dari Dinda? Apakah ia akan tetap dilihat sebagai ikon ‘cewek misterius’ 2020? Ataukah zaman akan berubah drastis sehingga muncul ribuan tafsir yang menunjukkan sebaliknya? [***]

[sumber : tirto.id]


Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pos terkait