Mengapa Jeroan Dianggap Bahaya Bagi Kesehatan?

Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KOMPAS.com – Jeroan memang makanan “surgawi” yang bisadiolah menjadi berbagai menu memanjakan lidah.

Namun, jangan terlena dengan rasanya yang nikmat. Makan jeroan terlalu banyak bisa memicu berbagai masalah kesehatan.

Pasalnya, jeroan kaya akan kolesterol yang tak bisa dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.

Jeroan berupa ginjal dan hati, misalnya, dalam 3,5 ons saja sudah mengandung 127 persen rekomendasi harian kolesterol.

Baca juga: Sering Dianggap Buruk, Jeroan Juga Punya Manfaat Kesehatan

Kolesterol dalam makanan memang tidak memiliki efek signifikan pada tubuh.

Akan tetapi, bagi beberapa orang yang sensitif terhadap kolesterol makanan bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.

Jeroan juga kaya akan lemak jenuh dan purin yang bisa memicu berbagai masalah kesehatan.

Bahaya konsumsi jeroan

Bagi orang yang sensitif terhadap kolesterol dalam makanan, mengonsumsi jeroan bisa mengakibatkan peningkatan kolesterol dalam darah.

Kondisi ini meningkatkan risiko penyumbatan arteri, dan penyakit jantung.

Data dari Medical News juga mengatakan, konsumsi lemak jenuh harus dibatasi maksimal 10 persen dari kalori harian.

Bagi orang dewasa yang bermasalah dengan kolesterol, konnsumsi lemak jenuh tidak boleh melebihi lima hingga enam persen dari asupan kalori harian.

loading...

Bagi pendertia asam urat, konsumsi jeroanjuga bisa memperparah gejala karena kandungan purinnya yang tinggi.

Baca juga: Waspadai, 8 Gejala Tumor Otak yang Jarang Disadari

Cara aman konsumsi jeroan

Bagi orang yang memiliki masalah dengan radang sendri, konsumsi jeroan bisa memicu kenaikan kadar asam urat dalam darah.

Kondisi ini bisa menyebabkan persendia membengkak. Untuk menghindari hal ini, konsumsilah jeroan dalam jumlah sedang.

Ibu hamil juga tidak boleh mengonsumsi jeroan terlalu banyak karena kandungan vitamin A di dalamnya yang sangat tinggi.

Jika dikonsumsi berlebihan, akan menyebabkan bayi cacat lahir dan kelainan serius.

Riset membuktikan, ibu hamil yang mengonsumsi lebih dari 10.000 IU vitamin A per hari berisiko 80 persen lebih tinggi memiliki anak cacat lahir, dibandingkan dengan ibu yang mengonsumsi 5.000 IU atau kurang per hari.

Oleh karena itu, penting untuk memantau asupan jeroan selama kehamilan, terutama jika Anda mengonsumsi suplemen yang mengandung vitamin A.

Selain itu, pilihlah jeroan yang berasal dari hewan organik. Hewan organik biasanya tidak memiliki timbunan lemak yang besar, terutama di bagian jantung dan ginjal.

[sumber : kompas.com]


Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pos terkait