Membiarkan Anak Bebas Berekspresi dalam Menggambar

Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato untuk ditayangkan dalam Sidang Majelis Umum ke-75 PBB secara virtual di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (23/9/2020). Dalam pidatonya Presiden Joko Widodo mengajak pemimpin dunia untuk bersatu dan bekerja sama dalam menghadapi pandemi Covid-19.(ANTARA FOTO/HO/KEMENLU)
Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PARIWARAKU.com – Membiarkan anak dalam berekspresi adalah tanggung jawab kita selaku orang tua. Inilah yang kami terapkan pada anak kami, yaitu tidak menghambat kebebasan dia berekspresi dalam menggambar atau mewarna.

Menurut kami, menggambar atau mewarna adalah salah satu karya seni manusia, dan seni adalah hasil cipta rasa karsa manusia.

Seni manusia bersifat individual dan unik, jika sering diatur dan diinstruksi, itu bukan seni manusia melainkan seni dari robot. Jadi, tidak ada bedanya dengan robot yang bisa melakukan itu semua sesuai perintah dan instruksi.

Di usia anak, menurut kami, pemahaman masih abstrak dan belum bisa menerima pengetahuan secara langsung dari apa yang sudah diketahui usia dewasa, karena usia mereka belum matang, masih bermain main yang ada disekitarnya, suka mencoret coret, dan berproses secara alami.

Pada umumnya metode dan sistem menggambar atau mewarna yang ditetapkan di sekolah atau institusi lain adalah bahwa gambar anak harus rapi, mewarna tidak boleh keluar garis, ada gradasi, dan berbagai aturan lainnya. Menurut kami, dengan menerapkan metode konvensional seperti ini, seperti menghilangkan keotentikan atau orisinalitas anak.

Ketika ada anak TK mewarna gajah pink, guru melarang dan harus mengganti warna tertentu, atau mewarna daun harus hijau, menggambar atau mewarna harus meniru apa yang guru gambarkan, jadi terkesan kaku dan tidak membebaskan anak berimajinasi.

Dahulu, guru menggambar dua gunung dan ditengah ada matahari, kemudian di depannya ada sawah, burung-burung, dll. Padahal, gunung bisa saja satu, atau ada bukit di sebelahnya, tapi karena guru yang menggambar seperti itu, anak meniru persis, artinya tidak menggambar bebas yang akhirnya menjadi pengikut saja, kurang imajinasi, dan sekedar copy paste.

Kelas menggambar atau mewarna sangat kurang dikenalkan melihat objek nyata secara langsung, seperti diajak keluar melihat pemandangan alam sekitar seperti gunung, sawah, laut, pohon, hewan, dll. Sehingga, pembelajaran menjadi tidak kontekstual.

Kreativitas anak jarang atau bahkan tidak dihargai jikalau gambarnya tidak lurus, coret-coret, tetapi dipaksa dan dinilai bahwa gambar seperti itu jelek, tidak sesuai standar, harus mencontoh gambar orang dewasa, mengikuti instruksi apa yang guru gambar, yang tampaknya sulit bagi anak. Gambar dan warna yang rapi, tidak keluar garis, terlihat bagus sesuai perintah, akan menjadi juara menggambar dan mewarna.

Orangtua biasanya akan merasa bangga bila anaknya juara menggambar atau mewarna rapi dan bagus. Anak bisa menjadi juara karena mengikuti standar, instruksi guru, atau les tapi bukan dari imajinasi mereka sendiri.

[Citra Melati @kompasiana]

loading...


Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pos terkait