Membangkitkan Selera dengan Fotografi Makanan

Bagikan Artikel ini

pariwaraku.com – Dunia fotografi makanan kini telah berkembang dinamis. Fotografi makanan yang merupakan bagian dari fotografi komersial telah berubah dari sebuah karya fotografi yang elitis, sesuatu yang sakral, kompleks, dan hanya bisa dikerjakan oleh orang yang mempunyai keterampilan mumpuni di dunia fotografi, kini lebih membumi dan bisa dikerjakan oleh siapa saja.

Bergeraknya sektor usaha kuliner rumahan yang ditawarkan melalui media sosial membuat fotografi makanan menjadi sebuah kebutuhan untuk penyajian produk. Bagi yang memiliki anggaran, para pengusaha kuliner akan menggunakan jasa fotografer untuk memotret makanan produksi mereka. Sementara bagi mereka yang tidak menyediakan anggaran, memotret makanan kini bisa dilakukan sendiri dengan menggunakan media perekam yang dimiliki, seperti kamera DSLR, mirrorless, atau cukup dengan telepon seluler.

Saat ini banyak telepon seluler dibuat dengan fitur kamera yang mumpuni untuk melakukan pekerjaan profesional. Hal itu tecermin dari kemampuan Samsung Galaxy Note 20 Series yang diperkenalkan pada awal webinar bertema fotografi makanan yang diselenggarakan Kompas. Salah satu telepon seluler Note 20 ini dilengkapi dengan kamera beresolusi 108 megapiksel, seperti dijelaskan oleh Product Marketing Manager Samsung Mobile Samsung Electronics Indonesia Taufiqul Furqan.

Fotografi makanan kini bisa dilakukan oleh pemula yang mungkin saja belum lama mengakrabi dunia fotografi. Peny Pujiati, fotografer yang banyak mengerjakan fotografi makanan, mengatakan bahwa mereka yang akan memotret makanan bisa dengan mencari referensi melalui foto-foto di internet. ”Kita bisa melihat foto-foto makanan, misalnya, dari aplikasi Pinterest. Kita tinggal menambahkan kata yang lebih spesifik untuk mendapatkan gaya foto yang kita mau. Bagi pemula, awalnya boleh meniru gaya fotonya, tetapi kemudian jika prinsip dasarnya sudah dimengerti, bisa membuat kreasi foto yang baru,” ujar Peny saat menjadi narasumber dalam Kompas Talks Photography Weeks 4 dengan tema ”Food Photography” yang ditayangkan melalui Zoom Meeting dan kanal Youtube harian Kompas,Minggu (22/11/2020).

Lebih lanjut, Peny menyampaikan, hal yang perlu dipersiapkan sebelum memotret makanan adalah sejumlah properti pendukung foto, seperti mangkuk atau piring, sendok-garpu dan pisau, serta alas makanan yang akan difoto. Setelah properti siap, yang perlu dilakukan adalah melatih menempatkan makanan agar menarik saat difoto dan tidak terlihat bertumpuk-tumpuk, yang justru akan menggangu bingkai foto. Semua memerlukan proses latihan. Sembari menambah jam terbang memotret makanan, kita bisa membuat gaya foto yang disukai sehingga menjadi ciri khas pemotretan serta membuat penampilan makanan dalam foto akan membangkitkan selera.

Tidak semua makanan secara fisik punya penampilan yang menggugah selera. Karena itu, agar foto makanan menjadi menarik, perlu ada penataan makanan. Penataan ini bertujuan agar secara visual makanan yang difoto akan menarik dilihat. Kita bisa melakukan sendiri atau dibantu oleh seorang penata makanan. Ada tiga macam pilihan dalam penataan makanan yang bisa dilakukan, yaitu penataan makanan yang akan membuat makanan terlihat lezat, terlihat cantik, dan terakhir ada kisah dalam makanan tersebut. Agar makanan terlihat lezat, yang dilakukan adalah memotret dengan seperti kita melihat makanan. Hal ini bisa dilakukan dengan memotret pada sudut 45 derajat di atas makanan tersebut disajikan.

Agar foto makanan terlihat cantik, kita perlu menambahkan properti pendukung. Hal yang perlu diperhatikan adalah properti ini jangan sampai menguasai bingkai dan terlalu dominan, yang akan membuat makanan yang seharusnya tampil justru tenggelam. Dalam penataan makanan serta properti, perlu ada latihan penempatan obyek yang umumnya dilakukan pada dasar-dasar pemotretan lain. Salah satunya adalah teori sepertiga bidang gambar, yaitu obyek ditaruh di sisi sepertiga bidang, bukan tepat di tengah, sehingga memungkinkan penambahan properti pendukung dalam bingkai foto.

Foto makanan bisa menarik dengan menambahkan cerita dalam foto. Cerita tersebut bisa dibuat dengan properti pendukung yang sesuai dengan tema makanan. Selain itu, menambahkan narasi tentang makanan tersebut bisa membuat orang lain menjadi tertarik. Foto yang bercerita kini telah menjadi tren penyajian di media sosial. Kisah-kisah yang menyertai makanan bisa menjadi pemancing orang untuk lebih tertarik pada makanan yang disajikan.

Jangan pernah minder jika tidak memiliki kamera canggih untuk memotret makanan. Kini, sebuah foto makanan yang cantik bisa dibuat dengan menggunakan kamera yang ada di telepon seluler. Agar pemotretan makanan lancar dan sesuai dengan harapan, selain properti pendukung, konsep pemotretan, dan kamera untuk memotret, perlu ada pemahanan tentang pencahayaan. Foto makanan yang cantik tidak hanya bisa dibuat dengan bantuan lampu-lampu studio yang ditata dengan rumit dan intensitas pencahayaannya diukur dengan tepat. Foto makanan yang bagus bisa dihasilkan hanya dengan mengandalkan sinar matahari yang jatuh di sudut rumah. Tempat jatuhnya cahaya matahari itu bisa menjadi lokasi pemotretan. Tentunya, kita harus memahami karakter cahaya saat menimpa makanan serta reflektor yang bisa memperkuat, memantulkan, atau memblokade cahaya agar sesuai dengan yang diinginkan.

Pengeditan foto makanan juga kian mudah. Dengan menggunakan aplikasi di telepon seluler, foto makanan yang kita hasilkan bisa dipoles hingga molek. Penampilan akhir makanan di media sosial yang kita saksikan umumnya telah melalui proses pengeditan foto sesuai dengan kebutuhan. Membuat foto makanan adalah sebuah drama yang harus berakhir dengan kebahagiaan. Foto makanan yang sukses adalah tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membuat orang yang melihatnya tergetar dan secara hormonal membangkitkan selera makan.

Pada masa pandemi ini, sejumlah fotografer yang tidak bisa banyak memotret di luar rumah memilih kegiatan memotret di rumah. Agus S Budiawan, pensiunan aparatur sipil negara di Tangerang, Banten, membuat kegiatan memotret makanan dengan memanfaatkan cahaya bantuan, seperti lampu LED yang menyala terang. Penataan dan pencahayaannya dia pelajari dari foto-foto makanan di internet. Uniknya, dia memotret menu yang dijual oleh penjual makanan yang lewat di tempat tinggalnya. Foto-foto makanan yang ditambahi dengan cerita pedagangnya itu membuat kedalaman foto dan efek yang lebih terhadap karya foto makanan yang dibuat Agus.

Saat fotografi telah menjadi milik semua orang, memotret makanan kini bukan hanya lahan fotografer profesional yang memiliki studio foto dengan berpuluh-puluh lampu mahal. Memotret makanan adalah sebuah pekerjaan yang simpel, tetapi memerlukan latihan panjang serta pemahaman yang kuat tentang teknik dasar pemotretan serta pencahayaan. Referensi foto-foto makanan harus menjadi perpustakaan yang kuat bagi otak. Namun, yang terpenting adalah berkreasi tanpa batas dan menyajikan foto makanan yang tidak hanya cantik dipandang dan terasa lezat, tetapi juga menjadi karakter karya foto yang berbeda dengan karya foto makanan yang lain.

Webinar Seri 4 bertema ”Food Photography” ini menjadi rangkaian Kompas Talks Photography Weeks. Menurut rencana, webinar Kompas Talks Photography Weeks akan diadakan sebanyak enam kali dan digelar dua minggu sekali dengan tema dan pembicara yang beragam di setiap pelaksanaannya. Seri kelima menurut rencana akan digelar pada Minggu (6/12/2020). Seri kelima Photography Weeks akan mengambil tema ”Travelling Photography” dan menghadirkan pembicara Arbain Rambey.


Bagikan Artikel ini

Pos terkait