Inspiratif untuk Negeri
Iklan Banner Artikel Atas gambar (800×100)
Iklan Dalam Artikel Bawah Foto bagian atas (800×100)

Meliana dan Distorsi Informasi

“Kebencian manusia tidak akan pernah bisa terpuaskan,” (Rinto Sibarani, pengacara Meliana).

0 967

Pariwaraku.com – Membaca polemik Meliana, terpidana kasus penistaan agama yang divonis Pengadilan Negeri Medan dengan penjara 1 tahun 6 bulan, seolah memberikan gambaran jelas bahwa keadilan tidak selamanya menyoal tentang kebenaran. Beda jauh putusan vonis antara Meliana dan sekelompok pelaku pengrusakan vihara dan beberapa rumah Tionghoa juga mencerminkan bahwa kita sedang menghadapi antiklimaksnya peradaban, dari memanusiakan manusia menuju satu situasi yang menempatkan kemanusiaan mengikut desakan massa.

Meliana, ibu empat anak dengan suami penjaga sarang walet milik orang lain terpaksa harus mendekam di balik jeruji penjara. Ia tidak menyangka, curhat ringan pada Kasini, tetangga pemilik warung tahun 2016 itu akan berbuntut panjang. Fakta persidangan, Meliana hanya berucap “Kak, sekarang suara masjid agak keras ya, dulu tidak begitu keras,” dan terkonfirmasi kebenarannya di depan majelis Hakim dengan pengakuan Kasini.
Kalimat itu lalu diteruskan Kasini pada adiknya, Hermayanti dan di saat berbeda disampaikan pada bapaknya. Dalam waktu 7 hari informasi terus bersambung dan mengalami distorsi berjenjang hingga ke level menyulut emosi. Di level kedua informasi beredar bahwa si Cina meminta adzan dikecilkan lalu naik pada tingkat selanjutnya yang sampai pada warga, media sosial jagad maya-si Cina melarang adzan.

Banner Iklan Dalam Berita

Distorsi informasi sering terjadi. Sebagai contoh ringan, orang pertama pada orang kedua; Parto menembak saat diwawancara wartawan. Oleh orang kedua lalu disampaikan pada orang ketiga ; Parto menembak pada wartawan. Orang ketiga pada orang ke-empat; Parto menembak wartawan. Lalu, terbakarlah vihara dan beberapa rumah kaum minoritas Tionghoa. Tak ketinggalan, rumah Meliana juga dirusak hingga keluarganya harus meninggalkan Tanjung Balai pindah ke Medan.

Era digital menawarkan akses informasi dengan mudah, menjadikan arus informasi selalu lebih dulu menguasai jagad maya dibanding kebenaran itu sendiri. Sebab informasi bisa disebar oleh siapapun menggunakan media apapun, oleh yang berkompeten maupun tidak, oleh orang yang ingin rusuh sekalipun. Lalu bagaimana menyikapinya? Paling tidak, belajarlah menahan diri untuk tidak mudah mengambil kesimpulan atas sebuah peristiwa. Apalagi sampai ikut menyebar berita, karena bisa jadi kita adalah bagian dari mata rantai distorsi informasi seperti contoh di atas. “Jari-jari mendahului akal,” kata kawan saat mendeskripsikan perilaku kita di media sosial yang dengan mudah share informasi tanpa menelisik lebih jauh kebenarannya.

Lalu bagaimana dengan Meliana? Ia tidak kalah dalam pertarungan keadilan. Ia hanya terjerumus dalam distorsi informasi dan menjadi stigma atas dirinya dalam proses peradilan. Terlebih preasure massa selama sidang menjadi sumbangan besar atas vonis yang harus dijalani, massa yang kadung marah, massa yang juga sekaligus korban-korban distorsi informasi. (*Penulis adalah pemerhati sosial)

Oleh; Natsir Said*

- Iklan -

- Iklan -

Komentar Anda :