Lahan dan Tanah Perumahan BTN Haji Basir, Milik Ahli Waris

Ikbal Basir SH salah satu ahli waris anak kandung Haji Basir Ahmad
Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pariwaraku.com – Mamuju, Polemik hak kepemilikan atas tanah Perumahan BTN Haji Basir di Kelurahan Simboro Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat ( Sulbar) yang selama ini menjadi polemik akhirnya terjawab.

Ikbal Basir SH salah satu ahli waris anak kandung Haji Basir Ahmad mengungkapkan, bahwa lahan dan tanah Perumahan BTN yang di bangun oleh PT Warga Haji Basir (WHB) murni milik ahli waris.
‘ Jadi lahan dan tanah perumahan BTN ini milik ahli waris,” kata Ikbal Basir SH, kepada wartawan saat di temui di Komplek Perumahan Haji Basir, Kamis ( 16/1/2020).

Bacaan Lainnya

Menurut Ikbal, dirinya perlu memberitahukan kepada semua pihak, baik itu Aparat Penegak Hukum, Badan Pertanahan, Instansi terkait serta seluruh masyarakat di Kota Mamuju bahwa setelah orang tuanya meninggal, maka yang berlaku terhadap harta peninggalannya adalah hukum waris yang pembahagiannya telah di atur dalam KUHPerdata.
Hal ini perlu ia sampaikan sekaligus menjawab karena adanya salah satu anak yaitu Saiful Basir yang mengklaim, jika tanah yang di maksud adalah miliknya.

” Saya mewakili 12 saudara dan telah mendapat kuasa penuh untuk mengurus pembagian kewarisan sesuai hukum waris yang berlaku. Sekaligus meluruskan berita bohong yang di kemukakan Saiful,” kata Ikbal.

Memang benar kata Ikbal, saat orang tua mereka masih hidup, pengelolaan sebahagian tanah telah diubah dari SHM menjadi sertifikat HGB sebagai prasyarat membangun Perumahan. Dimana ayahnya selaku Direktur Utama.
Namun harus dipahami bahwa asal muasal sertifikat sebelum di
ubah ke HGB adalah Sertifikat Hak Milik , sehingga statusnya dalam persero sesuai yang di atur dalam Undang-undang (UU) PT Nomor 40 Tahun 2007 masuk saham modal yang di setor dan perhitungannya menjadi setoran aset orang tuanya.

” Sementara pemegang saham yang lain hanya memiliki saham modal dasar pendirian, yang bersifat formalitas untuk memenuhi persyaratan pembentukan persero. Sehingga aset yang menjadi setoran modal milik ayahnya ( Basir Ahmad, red) otomatis jatuh ke semua ahliwarisnya setelah ayahnya meninggal dunia,” papar ikbal dengan santai.

ikbal juga menegaskan bahwa Saiful mencoba membangun stigma bahwa karena ada perkara sengketa antar perusahaan yang telah mendapat putusan di tingkat Kasasi, sehingga dengan dasar itu jika dia menang serta berhak atas kepemilikan tanah yang dimaksud.

Padahal yang sesungguhnya adalah, masalah jual beli antar Perusahaan, di mana PT WHB menjual asetnya kepada PT WHBU dan oleh Putusan Kasasi, membatalkan jual beli itu serta kepemilikan aset kembali menjadi milik PT WHB dan bukan menjadi milik Saiful.

” Apalagi PT WHBU juga tidak mewakili kami seluruh ahli waris, sehingga tidak ada kaitan atau pengaruhnya terhadap gugurnya hak kami bersaudara terhadap aset orang tua berdasarkan Putusan Kasasi tersebut,” tandas Ikbal.

Bahkan tambah Ikbal, pihaknya juga sedang memantau Saiful terkait dirinya telah merubah saham di perusahaan. DImana Saiful menempatkan dirinya sebagai Direktur Utama serta merubah sahamnya menjadi 50 Persen.

Disatu sisi ayahnya selaku pemilik perusahaan hanya di berikan saham hanya 10 persen. Bahkan ada pemegang saham yang di hilangkan namanya tanpa sepengetahuan para ahli waris.

Perubahan nilai saham ini juga kata Ikbal, tanpa sepengetahuan pemegang saham. Atau dengan kata lain tidak melalui Rapat Umum Pemegang Saham ( RUPS).
Jadi jelas ada unsur perbuatan melawan hukum. Makanya tidak menutup kemungkinan saya selaku pemegang kuasa dari 12 saudara akan membawa persoalan ini ke ranah hukum,” pungkasnya.

loading…

Penulis : Gus


Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pos terkait