Kisah Sembilu Dibalik Likuifaksi Balaroa

Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mamaaa ..Tak Ada Lagi Turunanku,
Jasad Faatir Belum Ditemukan

Pariwaraku.Com – Palu, “Kering sudah air mataku”. Ungkapan kesedihan dan kepedihan ini tak pernah lekang oleh waktu. Hampir tiga bulan lamanya air mata itu, terus saja keluar dari kelopak mata sosok laki-laki tangguh dan pekerja keras. Ia hanya bisa pasrah, sabar, ikhlas dan berserah diri. Hanya itu yang bisa dilakukannya, guna menguatkan jiwa-jiwa yang rapuh.

Bacaan Lainnya

Rudy Rahman warga Perumnas Balaroa, Ia harus kehilangan tiga jagoannya. Gempa berskala 7,4 Magnitude yang sertai likuifaksi, ternyata akhir dari kehidupan anak-anaknya.
Tak pernah terlintas dalam benaknya sedikit pun, jika tiga jagoannya harus pergi dengan kondisi mengenaskan.

 

“Mama habis sudah Tak ada lagi turunanku. Kita cucumny yang selama ini saya sayangi telah pergi untuk selamanya,” kata Rudy kepada ibundanya.

Sebelum jasad-jasad anaknya ditemukan, upaya pencarian di lakukan tanpa mengenal waktu. Semua lokasi pengungsian serta rumah sakit didatangi termasuk mendatangi Asrama Haji Sudiang Makassar, Namun upayanya tidak membuahkan hasil.

Saat tanggap darurat, ketika proses evakuasi oleh Tim Basarnas dilakukan, alhasil, dari ratusan jenazah yang dievakuasi, dua dianataranya jasad anaknya, Muhammad Rafli dan Muhammad Hidayat. Korban-korban ini di evakuasi dengan menggunakan exavator setelah tertelan bumi, sementara putra bungsunya Muhammad Faatir siswa Sekolah Dasar, sampai saat ini belum juga ditemukan.

Beruntung disela-sela kepiluan dan kesedihan, ibunya datang dan memberikan petuah serta nasehat kepada anaknya Rudy, “Sabar anakku… kita harus ikhlas dan kuat. Cobaan ini hanya di berikan kepada hambanya yang kuat dan tabah,” kata Rudy menirukan ungkapan bundanya.

Bagi Rudy dukungan dan motivasi ini, menjadi energi dan penyemangat bagi dirinya, sekalipun hati kecilnya belum bisa menerima 100 persen kenyataan yang menimpa keluarganya.

Musibah itu terus saja menghantui kehidupan Rudy dan istrinya. Rudy tak bisa melupakan masa-masa emas bersama tiga penerusnya.
Belum lagi disaat gempa itu datang, ia tidak bersama anak-anaknya. Ia dan istrinya berada di rumah menunggu datangnya waktu shalat magrib, sementara tiga putra kesayangannya pergi shalat berjama’ah di Masjid Darrul Muttaqien. Masjid yang selama ini menjadi maskot dan kebanggaan warga Perumahan ibu dan ayahnya, hanyalah mimpi dan angan-angan semu.

Semua itu tidak akan mungkin terulang kembali. Keceriaan serta harmonisasi keluarga yang selama bertahun-tahun terjalin, pupus seketika. Yang tersisa hanyalah kenangan dan rekam jejak ia bersama anak-anaknya.
” Alfatiha buat anak-anakku, jemput papa di pintu surgamu kelak,” kata Rudy dengan kepercayaan diri.

loading…

Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pos terkait