Kisah Pilu Tuaka Iba Korban Amukan Likuifaksi Balaroa

Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pariwaraku.Com – Palu, Senja di angit kota Palu kala itu, lain dari pada yang lain. Mentari sore tak memancarkan cayaha seperti biasanya. Langit kelihatan merah bagai tanda ada sesuatu yang terjadi. Namun semua itu, tak menjadi pemikiran masyarakat.

Rupanya itu adalah sinyal, jika alam di bumi Palu, Donggola dan Sigi (Pasigala) akan murka.

Bacaan Lainnya

28 September 2018 bumi Pasigala diguncang Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi. Hari itu, Kota Palu dan lebih khusus Kelurahan Balaroa, luluhlantak akibat amukan gempa bumi dan likuifaksi.

Teriakan minta tolong dan jeritan kesakitan terdengar dari balik puing-puing reruntuhan rumah. Semua tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa pasrah dan pasrah.

Jangankan menyelamatkan keluarga, serta familinya, nyawa sendiri saja sulit diselamatkan. Sebab harus bisa lolos dari reruntuhan serta belahan tanah yang penuh lumpur. Bahkan untuk keluar dari zona merah, harus melewati bumbungan rumah-rumah warga, karena jalan sudah tidak ada yang ketinggiannya sudah sama dengan lantai dua rumah warga.
Hanya kuasa Allah yang bisa menolong. Bahkan sebagian warga yang selamat, menganggap hari itu adalah hari kiamat.
Karena jika melihat secara kasat mata tidak akan ada yang bisa selamat. Kondisinya ibarat film Kiamat 2012.

Namun diantara puing-puing reruntuhan dan sisa api yang masih mengepul, tampak seorang lelaki duduk termenung. Beliau adalah Firba Dg Malino atau biasa di sapa dengan sebutan Tuaka Iba.
Lelaki yang selama ini dikenal sebagai sosok yang kuat dan tangguh hanya bisa pasrah, meratapi kepergian orang-orang yang ia sayangi. Istri dan dua orang putri serta tiga orang cucu tak bisa ia selamatkan.

Sungguh ironis, selama bertahun-tahun hidup bersama harus meninggal di depan matanya sendiri.

Menurut pengakuan Tuaka Iba, kala itu tanah berguncang, Bergelombang seperti ombak. Di titik yang satu naik, titik yang lain turun. Kejadian itu bisa membanting-banting apapun yang ada di atasnya.
“Seketika itu juga saya tarik dua cucu dan lari ke teras,” terang Tuaka Iba.

Bahkan pengakuan Tuaka, ia sampai dua kali terjatuh. Tiap kali jatuh, bangkit. Ia tak menyerah karena dinding rumah, mulai runtuh. Kaca-kaca mulai pecah dan listrik padam.

“Di teras, samar-samar saya melihat rumah yang di depannya berputar, Rumahku juga ikut terputar. Saling berhimpit satu dengan lainnya Seperti “diblender!”. terang Tuaka Iba.

Semua panik. Kocar-kacir. Atap rumah langsung runtuh. Ia saja terlempar.
“Di sini, papa. Kami disini, pa,” teriak Fitri dari balik reruntuhan rumah.

Didapatinya Fitriani (anak), Hadijah (anak), Citra (istri ), terhimpit tembok rumah, balok kayu, dan seng. Mereka tak bisa keluar.

loading…

Aco sang menantu , tiba-tiba muncul dari atap seng yang runtuh. Setelah menaruh balitanya dalam loyang, dengan sigap ia bantu ayah mertuanya menyingkirkan puing-puing yang menghimpit istrinya dan yang lain.

Sekitar dua jam Tuaka Iba dan Aco berjuang menyelamatkan keluarganya yang terhimpit. Tapi, upaya itu seperti sia-sia. Tembok cor dan balok terlalu berat untuk dua tenaga yang nyaris habis.

“Saya masih sempat memberi mereka Mangga,” kenang Tuaka Iba berkaca-kaca.

Dalam keadaan kalut, khawatir dan lemas, Tuaka Iba terus berusaha menenangkan keluarganya yang tak putus-putusnya berzikir: “Laa ilaaha ilallah.”

Dalam keadaan seperti itu, api kian mendekat. Waktu terasa bergerak cepat sekali. “Pergi saja pa, kita sudah ikhlas. Selamatkan cucuku ,” kata Citra, istri Tuaka Iba, yang tak putus-putusnya berzikir.

Hadijah, istri Aco, pun berkata begitu kepada suaminya. Meski Aco tak mau. Dia ingin tetap di situ. Mati bersama.

“Kau pakai akal. Anakmu masih kecil. Jangan mati di sini,” Kata lelaki kelahiran Gorontalo ini membentak menantunya

Mendapat bentakan Aco tersadar dan segera membawa balitanya yang dimasukkan dalam loyang bersama kakaknya. Kurang-lebih 30 menit, mereka mencari jalan keluar dari reruntuhan puing-puing. Sampai akhirnya berhasil keluar setelah mencapai titik yang lebih tinggi. “Paa… Mereka sudah terbakar,” tangis Aco pecah dalam lemas.

Perumnas Balaroa kini telah rata dengan tanah setelah di amuk gempa bumi bumi 7,4 SK. Rumah-rumah di dalamnya tertelan lumpur dan air akibat likuifaksi yang berlangsung begitu cepat. Bahkan sampai saat ini masih ada ratusan jasad warga yang tertimbun dan belum di evakuasi.

Bagi Tuaka Iba, kejadian itu tak akan bisa dilupakan. Itu akan mengubah hidupnya selamanya. Ia telah kehilangan istri, 2 anak, dan 3 cucu, termasuk Randi, cucunya, yang kala itu sedang sholat magrib di Masjid Perumnas Balaroa ketika gempa terjadi.

“Jujur saya sudah ikhlas, Allah SWT lebih sayang dan cinta kepada mereka semua”. Tandas Tuaka Iba dengan tegar.

loading…

Penulis : Agus Gerbek


Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pos terkait