Hati-Hati! Kecanduan Nonton Drama Korea Bisa Sebabkan Erotomania

Bagikan Artikel ini

Tak hanya musiknya, namun dunia hiburan lain seperti drama atau film asal negara tersebut pun berhasil mencuri perhatian banyak anak muda.

Drama Korea atau yang sering disebut drakor, tak hanya digemari karena jalan ceritanya tetapi juga karena aktor dan aktris yang terlibat memiliki paras yang sangat menarik.

Namun, ternyata terlalu sering atau kecanduan menonton drama Korea bisa menyebabkan suatu gangguan delusi yang disebut Erotomania.

Erotomania ini adalah bagian dari gangguan delusi ketika seseorang merasa yakin dicintai atau disukai oleh orang lain, meski kenyataannya hal itu belum tentu terjadi.

Penderita Erotomania ini biasanya merasa dicintai oleh orang terkenal, seperti pejabat, selebriti, konglomerat, atau tokoh-tokoh besar lainnya.

Awal munculnya perasaan dicintai yang tidak nyata atau erotomania tersebut bukanlah timbul dari realita yang ada.

Biasanya orang tersebut berkhayal dengan menonton tayangan televisi atau film, dengan hal tersebut sudah sangat cukup untuk memicu timbulnya erotomania.

Tak heran, hal ini menjadi peringatan untuk para pencinta dan pecandu drama Korea karena drama yang menyentuh hati dan melekat pikiran bisa membentuk khayalan bagi para penontonnya.

Berikut ini adalah gejala Erotomaniayang menjadi ciri awal dan patut diwaspadai ketika hal tersebut terjadi pada Anda.

Tak heran, hal ini menjadi peringatan untuk para pencinta dan pecandu drama Korea karena drama yang menyentuh hati dan melekat pikiran bisa membentuk khayalan bagi para penontonnya.

Berikut ini adalah gejala Erotomaniayang menjadi ciri awal dan patut diwaspadai ketika hal tersebut terjadi pada Anda.

Penderita Erotomania ini akan megirimkan surat, email, atau hadiah apapun kepada sosok yang dianggap mencintainya.

Ia akan terus-terusan melakukan berbagai cara agar bisa menghubungi sosok tersebut, bahkan selalu ingin mencoba untuk berkomunikasi secara rahasia.

Biasanya hal tersebut juga dilakukan dalam membuat postingan di media sosial, misalnya menuliskan captionyang menyinggung sosok tersebut.

Tak memiliki gairah untuk melakukan aktivitas yang produktif, hanya ingin menghabiskan waktunya untuk memikirkan dan membicarakan orang yang dianggap mencintainya tersebut.


Bagikan Artikel ini

Pos terkait