Hai Kartini ‘Kekinian’, Menulislah!

Bagikan Artikel ini

Raden Ayu Kartini pernah mengirimkan surat kepada Profesor Anton dan Nyonya pada tanggal 4 Oktober 1902 yang isinya: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Siapa yang tak kenal tokoh perempuan paling fenomenal sepanjang sejarah Bangsa Indonesia. Tepat di hari ini, Indonesia merayakan Hari Kartini yang ke 142 tahun. Seratus empat puluh dua tahun yang lalu, Bangsa ini dihadiahi oleh Tuhan seorang pemikir perempuan hebat bernama Raden Ayu Kartini. Jauh sebelum aroma kemerdekaan dihirup oleh seluruh rakyat, pikiran Kartini telah lebih dulu mewarnai gagasan pembangunan sumber daya manusia di atas Bumi Nusantara.

Puluhan, ratusan bahkan ribuan macam pertanyaan kerap hadir dalam diskursus perjuangan emansipasi perempuan yang dilakukan oleh Kartini—hingga implementasi yang masih mendeviasi hingga saat ini. Carut-marut perdebatan paham pro-kontra masih berseliweran di mana-mana. Indoktrinasi feminisme dan anti-feminisme masih bergaung di masing-masing pihak.

Penganugerahan “Pahlawan Nasional” kepada Kartini, oleh Presiden Sukarno bersama dua tokoh perempuan lain yakni: Tjoet Nyak Meutia dan Tjoet Nja’ Dhien, pada Mei 1964 dan sekaligus 21 April sebagai Hari Kartini yang bersandar kepada namanya secara personal. Pada momen itu, kita merekam jejak hingga generasi saat ini terus mengenangnya.


Bagikan Artikel ini

Pos terkait