Fahri Bocah Selamat dari Likuifaksi Setelah Delapan Jam Bertahan Hidup

Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pariwaraku.com – Palu, Fahri Fajar hanya bisa duduk lemas dibalik kursi roda dengan tatapan kosong. Hiruk pikuk keriangan anak-anak lain saat bermain dan belajar sekarang tak terdengar olehnya karena jiwanya telah hampa.

Fahri bukannya tak mau bermain dan belajar dengan teman-temannya, ia tak
bisa. Hatinya masih pilu sejak ibu, adik dan neneknya meninggal. Kaki kananya harus di amputasi akibat tertimpa tembok saat gempa dan likuifaksi memporak-poranda Perumnas Balaroa.

Bacaan Lainnya

Duka nestapa itu takkan pernah hilang dari benak Fahri bocah 10 tahun ini.
Air matanya tak pernah kering. Apalagi ketika mendengar kata gempa dalam alunan lagu yang di nyanyikan teman-teman sekelasnya.
Mungkin karena memori tentang musibah itu belum hilang dari ingatannya.
Tatkala teman-teman sekelasnya di SD Impres Perumnas Balaroa, tengah mendapatkan materi trauma healing dari relawan, air matanya terus saja mengalir. Ia hanya bisa menunduk lalu membasuh pipinya dengan sebuah tysu. Kata gempa bagi Fahri sebuah momok yang menakutkan.

Fahri seakan tak sanggup lagi menghadapi hidup. Dari balik mata cucu Abdurrahman M Kasim, Ketua Forum Korban Gempa Bumi dan Likuifaksi Balaroa ini, terpancar sejuta kesedihan yang mungkin membutuhkan waktu untuk berubah menjadi keceriaan. Apalagi ketika itu ia membayangkan jeritan ibunya yang tak henti-hentinya mengumandangkan kalimat tauhid dan takbir Allahhu serta jeritan minta tolong.

Masa-masa kecil yang dulu penuh keceriaan, sirna seketika bersama amukan likuifaksi. Tak ada lagi, canda dan tawa. Yang tersisa hanyalah kesedihan dan air mata. ” Tak usah lagi sebut-sebut kata gempa, karena itu akan mengingatkan memori Fahri,”kata Indah tantenya yang selama ini terus menemaninya.

Jumat kelam 28 September 2018 saat senja menjelang, gempa berskala 7,4 Magnitude itu datang. Di tengah kepanikan, kata Indah, Fahri bersama ibunya Wati, nenek Hj Asnia dan adiknya Moh Noah berusaha menyelamatkan diri.
Namun takdir berkata lain. Tembok tiba-tiba runtuh dan menimpa mereka bertiga saat musibah itu datang.

Fahri tertimpa di bagian kaki, sementara ibu, nenek dan adiknya tak bisa menghindar dari runtuhan tembok. Sang ibu, nenek dan adiknya meninggal setelah terjepit reruntuhan.
Ia hanya bisa menganis dan menjerit kesakitan. Tolooong, toloooong teriakan dari balik tembok.

Selama delapan jam, Fahri mempertahankan hidup di balik reruntuhan. Nanti sekira pukul 02.00 Wita, dimana sebagian kompleks Perumnas telah di kelilingi kobaran api, ayahnya Sudarto datang menyelematkan dan melakukan evakuasi. Proses evakuasi ini memakan waktu berjam-jam, sebab kaki Fahri terjepit tembok, sehingga harus menggunakan peralatan seadanya.

Alhamdulillah kata Indah, upaya bapaknya Sudarto berhasil mengevakuasi lalu melarikan putranya ke Rumah Sakit Alkhairaat.
Sudarto sendiri tak kuasa menahan tangis dan kesedihan , karena ia tak bisa menyelamatkan istri, anak serta ibu mertuanya yang tertimpa reruntuhan di rumahnya jalan Kanna nomor 10.
Kejadian ini tentu saja takkan pernah hilang dari memorinya. Hanya keikhlasaan dan kesabaran yang menjadi kekuatan jiwanya. ” Kami memang sayang dan cinta, tapi Allah SWT lebih sayang terhadap mereka semua. Semoga orang-orang yang aku sayangi ini mendapatkan tempat yang layak di sisiNYA,” Aamiin yaa rabbal alamiin.

Penulis : Agus Gerbek

loading…

Bagikan Artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pos terkait