Dari Titik Nol Bupati Parimo Tunjukan Role Model Pariwisata Dunia

Bagikan Artikel ini

Pariwaraku.com – Sulawesi Tengah ternyata memiliki banyak potensi pariwisata yang belum diketahui. Salah satunya yang ditunjukan Bupati Parigi Moutong(Parimo) Samsurizal Tombolotutu. Meski cucu Pahlawan Nasional ini sendiri tidak menyadari, jika apa dilakukan saat ini adalah bagian dari role model pariwisata dunia.

Hal tersebut diungkapkan Komunitas Pariwisata Sulteng Rasyid Languha dan Abdul Haris saat berdialog dengan Ketum KONI Sulteng M Nizar Rahmatu di ruang kerjanya, Senin 5 Desember 2021.

Bacaan Lainnya

Menariknya dalam pertemuan tersebut, tidak hanya membahas soal perkembangan serta kemajuan olahraga di bumi Tadulako, namun merembet ke persoalan sport tourism yang merupakan tren pariwisata dunia, karena antara olahraga dan pariwisata dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Menurut Nizar Rahmatu, Bupati dua periode ini rela mennggalkan kemewahan serta fasilitas megah di Kota Parigi, kemudian menghabiskan sisa masa jabatannya dengan tinggal dibelantara hutan mangrove atau bakau di wilayah Kecamatan Tinombo ” Beliau satu-satunya Bupati di Indonesia yang memilih tinggal di wilayah ekosistim mangrove atau hutan bakau hanyalah Bupati Parimo Samsurizal Tombolotutu,” katanya.

Bahkan menurut Nizar, pengelolaan kawasan tapak pesisir dengan pendekatan pariwisata dan konservasi menjadi poin pembelajaran penting bagi pembangunan kawasan yang terintegrasi. Hal ini tanpa disadari telah dilakukan oleh Bupati Parimo.

“Sebenarnya Bupati Samsurizal ingin memberi pesan kepada masyarakat dunia, betapa pentingnya melestarikan ekosistim pesisir melalui pengelolaan dan pemanfaatan secara lestari, yaitu salah satunya melalui sektor pariwisata. Dan hal ini juga sejalan dengan komitmen dunia untuk membangun sistim pengelolaan pariwisata berkelanjutan atau pariwisata masa depan (tourism for tommorow)” cetusnya.

Tidak hanya itu jika menurut Rasyid Languha, dikawasan mangrove tidak jauh dari tempat bermukimnya Bupati Parimo, merupakan titik temu antara garis bujur dan garis khatulistiwa. “Titik nol di muka bumi hanya ada di dua tempat, satu di Atlantik Selatan dan satunya lagi di perairan Tinombo, Teluk Tomini ,” katanya.

Menurut Rasyid, ini hal menarik untuk menjadi “role model“, dimana seorang pejabat negara memiliki kepedulian dalam mengembangkan potensi ekowisata bahari dan secara tidak langsung telah berkontribusi dalam perlindungan ekosistim pesisir. Role model ini harusnya diapresiasi oleh lembaga Internasional.

“Jadi aktivitas yang dilakukan Bupati Samsurizal di Tinombo ini telah mencuri perhatian kalangan pemerhati lingkungan. Karena ini berkaitan dengan isu konservasi,” tambah Abdul Haris yang juga Komunitas Pemerhati Pariwisata.

Bahkan tambahnya role model yang dilakukan Bupati Parimo ini, menjadi konsep alternatif untuk diinisiasi diwilayah titik pertemuan antara garis lintang dan garis bujur. Ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi objek daya tarik wisata dunia dan dapat mendukung pengembangan destinasi pariwisata unggulan di kabupaten Parimo.

Selain itu, potensi wilayah juga didukung dengan kehidupan tradisional masyarakat suku Lautje yang memiliki karakteristik unik, serta kehidupan pesisir dengan keanekaragaman hayati cukup besar, seperti hutan bakau dan terumbu karang, serta berbagai jenis biota laut. Ekosistim pesisir ini, selain dapat difungsikan sebagai penyedia sumber daya hayati yang memiliki nilai ekonomis, juga dapat menjadi penyerap karbon dioksida untuk mengurangi gas rumah kaca,” tandasnya.

Pengelolaan sumber daya alam dan budaya lokal yang terintegrasi akan menjadi daya tarik kuat kepada masyarakat internasional.

Olehnya, “Samsurizal sebagai pemimpin daerah telah memberikan contoh dengan memanfaatkan ekosistim hutan bakau (mangrove) sebagai daya tarik wisata untuk menikmati dan merasakan nuansa eksotik kehidupan di tengah hutan bakau,” ujarnya.

Apalagi kita ketahui bersama bahwa model pemanfaatan hutan bakau dan sumberdaya pesisir yang dilakukan Bupati Samsurizal, sebenarya telah mengintegrasi tiga komponen penting, yaitu konservasi, budaya dan pariwisata. Model ini perlu dipublikasi secara luas sehingga bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat luas mengenai pemanfaatan sumberdaya pesisir secara baik”, pungkasnya.

Pertemuan Ketum KONI dengan pemerhati pariwisata ini melahirkan gagasan-gagasan penting yang bisa dilakukan pemerintah daerah untuk pengembangan pariwisata Parimo, serta meningkatkan kawasan pesisir Tinombo, serta “role model” aktivitas wisata di hutan bakau sebagai destinasi wisata unggulan Sulteng dan bahkan di Indonesia. Sedikitnya, ada tiga point’ gagasan penting, yaitu Pemkab Parimo perlu segera memfasilitasi pembentukan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD). BPPD ini merupakan salah satu amanat dari UU. No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan yang wajib dibentuk di setiap daerah propinsi dan kabupaten.

Saat ini belum seluruh kabupaten/kota di Sulteng memiliki BPPD dan hingga saat ini baru dua kabupaten punya BPPD, yaitu Touna dan Banggai. Selain Badan Promosi, ada juga kelembagaan pariwisata yang bergerak di bidang pemasaran wisata dan pengelolaan wisatawan yang diamanatkan undang undang perlu juga dibentuk, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI).

Dalam rangka upaya promosi dan diseminasi potensi daya tarik wisata di kabupaten Parimo, kedua pemerhati pariwisata ini mengusulkan diselenggarakan event berskala regional, yakni Konferensi Kerjasama Pariwisata Regional Teluk Tomini guna memperkenalkan potensi pariwisata Parimo, serta posisi strategis wilayah ini dalam menghubungkan dan meningkatkan akses terhadap destinasi di kawasan teluk Tomini serta destinasi Pariwisata di Sulawesi pada umumnya. Selain itu, event event festival juga perlu digalakkan, seperti festival Budaya Orang Dalam atau Festival Sejarah Perjuangan Tombolotutu.


Bagikan Artikel ini

Pos terkait